Judul :
Belajar Menulis Buku Best Seller
Penyusun :
Agus Salen
Resume
ke : 20
Gelombang :
33
Hari/Tanggal : Jum’at,
19 September 2025
Tema :
Teknik Menulis Buku Best Seller
Narasumber :
Akbar Zainuddin, M.M., MNE.
Moderator :
Edmu Yulfizar Abdan Syakura, Gr.M.Pd
Sebuah mimpi yang tergolong mahal bagi seorang penulis manakala buku yang
ditulisnya menjadi best seller. Sudah barang tentu berjuta tanya muncul di
benak kita, bagaimana caranya agar buku yang lahir dari ide sederhana itu akan
menjelma menjadi best seller.
Untuk menjawab pertanyaan penting itu, mari menyimak sampai akhir Kelas
Belajar Menulis Nusantara (KBMN) gelombang 33 yang telah memasuki malam terakhir.
Kali ini hadir membersamai kita Bapak Akbar Zainuddin, M.M., MNE. penulis buku
fenomenal Man Jadda Wajada.
Beliau akan berbagi pengalaman sekaligus membuka rahasia teknik menulis
buku best seller: mulai dari menemukan ide yang bernilai, mengolah kata yang
menyentuh hati. Bahkan beliau juga akan
membongkar strategi agar buku dapat menembus pasar dan dibaca oleh banyak
pembaca. Mari kita belajar dari sosok yang hebat dan mampu membuktikan bahwa
kesungguhan menulis mampu mengubah hidup.
Adapun susunan kegiatan kita malam ini, pertemuan ke-20 terdiri dari
pembukaan, materi inti, tanya jawab dan diskusi serta penutup.
Sebenarnya tidak ada ketentuan yang baku sebuah buku dikatakan best seller.
Sebagai contoh buku Man Jadda Wajadda telah terjual sebanyak 55.000 eksemplar
sehingga dikatakan best seller. Sementara itu buku yang telah laku terjual
sebanyak 5.000 – 15.000 eksemplar bisa juga dikategorikan sebagai buku best
seller. Lain halnya dengan penerbit Gramedia sebuah buku dikatakan best sller
manakala telah laku terjual sebanyak 25.000 eksemplar.
Beliau menulis sejak tahun 2009 telah menerbitkan sebanyak 17 buku kebanyakan
dari buku itu adalah bergenre motivasi dan pengembangan diri. Buku motivasi
yang ditulisnya beragam mulai dri motivasi siswa, motivasi karyawan, motivasi
bisnis, dan tentu juga motivasi menulis.
Khusus buku Man Jadda Wajadda beliau
menulisnya dengan penuh kesungguhan, penuh dengan rasa. Saya dengarkan obrolan
dari berbagai pihak, masukan dari berbagai pihak, dan saya mencoba menyelami
apa kebutuhan masyarakat tentang buku motivasi.
Ada tiga pertanyaan untuk sebuah buku yaitu:
1.
Apa yang mereka dapatkan setelah membaca
buku saya?
2.
Buku saya menjawab kebutuhan apa dari para
pembaca?
3.
Apakah mereka mau mengeluarkan uang untuk
membeli buku agar mendapatkan jawaban dari permasalahan yang mereka hadapi?
Selanjutnya dilakukan Analisa masalah dan kebutuhan pembaca saat ini untuk
selanjutnya disajikan dengan gaya bahasa dan diksi yang dimiliki. Langkah
sederhana ini jika dilakukan dengan benar, sepenuh hati, dan inovatiff akan melahirkan karya yang dicintai
oleh pembaca.
Ada delapan Langkah menulis dengan prinsip MAN JADDA
1.
Mulai darri sekarang
Banyak orang ingin menulis buku, tapi selalu menunda. Mereka berkata,
“Nanti kalau ada waktu luang, saya akan menulis.” Sayangnya, waktu luang itu
jarang datang. Kesibukan selalu ada, dan kalau kita menunggu momen sempurna,
maka tulisan itu tidak akan pernah lahir. Kunci utamanya sederhana: jangan
tunggu waktu, tapi ciptakan waktu.
Kalimat ini sangat menyentuh jika menulis menunggu waktu luang yakin saja
tulisan itu tidak aakan jadi. Karena sessungguhnya waktu itu tidak pernah luang
selalu saja ada aktifitas yang mengisinya.
Dimana ada kesungguhan disitulah ada
jalan, prinsip ini memberikan sugesti kepada kita bahwa untuk melahirkan sebuah
tulisan besar yang digemari banyak orang tidak perlu waktu khusus. Namun
kesungguhan mengumpulkan paragraf demi paragraph seetiap menulis merupakan langkah
konkrrit melahirkan karaya besar.
Sama halnya filosofi belajar yang mengatakan belajar yang sering meskipun
sebentar lebih baik dibanding belajar hanya sekali meskipun waktu belajarnya
lama.
Menulis adalah keterampilan. Semakin banyak kita berlatih maka akan semakin
mahir kita dalam menulis. Jadi latihan lah dengan penuh disiplin setiap hari
maka lama-lama tulisan kita akan semakin bagus.
Salah satu untur yang membuat buku itu laku terjual adalah dikarenakan
tulisan itu bagus. Tulisan yang masuk kategori bagus tentu tidak lahir begittu
saja namun melalui waktu yang Panjang dan
perjalanan hati yang lama.
2.
Atur ide dan outline
Menulis tanpa arah itu seperti berkendara tanpa peta. Kita bisa
berputar-putar, kehilangan tenaga, dan tidak sampai tujuan. Karena itu, penting
sekali membuat outline sebelum mulai menulis. Outline adalah kerangka besar
yang memandu kita dari awal hingga akhir.
Misalnya, kamu ingin menulis buku motivasi tentang manajemen waktu. Buatlah
bab-bab seperti: (1) Mengapa waktu berharga, (2) Kesalahan umum dalam mengatur
waktu, (3) Teknik sederhana manajemen waktu, dan (4) Inspirasi tokoh sukses.
Dengan begitu, setiap kali duduk menulis, kamu tidak bingung harus mulai dari
mana.
Ada dua mazhab dalam menulis. Yang pertama adalah dengan outline dan yang
kedua adalah tanpa outline. Dua-duanya tidak ada yang salah karena gaya menulis
setiap orang berbeda-beda.
Saran saya, silakan Bapak Ibu membiasakan untuk membuat outline terlebih
dahulu. Nanti kalau sudah mahir outline-nya boleh hanya ada di pikiran saja
tanpa harus dituliskan.
3.
Nikmati proses menulis
Menulis sering dianggap beban. Padahal, jika kita menikmatinya, menulis
bisa menjadi aktivitas menyenangkan. Jangan selalu berpikir tentang target
halaman atau kapan bukumu selesai. Fokuslah menikmati setiap kalimat yang
keluar dari pikiranmu.
Menjadi beban atau tidaknya menulis itu tergantung pada sikap kita sendiri.
Menulis itu sebuh insting jika memah sudah kehaabisan ide menulis jangan paksakan
untuk tetap menulis, mungkin bijaksana jika kita mengambil jedah sambal berjalan
menayksikan keadaan sekitar.
Kebanyakan penulis berhenti di tengah jalan karena kehilangan konsistensi.
Semangat besar di awal sering hilang saat menemui kebosanan. Padahal,
keberhasilan menulis buku bukan ditentukan oleh ledakan semangat sesaat, tapi
oleh disiplin kecil yang berulang.
4.
Jaga konsistensi menulis
Tips praktis: tentukan target sederhana, misalnya 500 kata sehari. Jika
dilakukan konsisten, dalam 4 bulan kamu sudah punya naskah setebal 60.000 kata,
setara sebuah buku penuh. Konsistensi kecil bisa menghasilkan karya besar.
Konsistensi itu ibunya kualitas. Kalau kita konsisten kualitas tulisan kita
akan semakin baik. Jauh lebih penting adalah latihan menulis setiap hari.
Sekali lagi, setiap hari. Sekali lagi, setiap hari.
5.
Ambil inspirasi dari sekitar
Inspirasi menulis tidak selalu datang dari hal-hal besar. Justru seringkali
lahir dari pengalaman sehari-hari yang sederhana. Pengalaman pribadi, kisah
orang lain, atau peristiwa di sekitar bisa menjadi bahan tulisan yang
menyentuh.
Cobalah mulai memperhatikan sekitar: obrolan di warung kopi, perjuangan
tetangga, atau pengalaman pribadi saat jatuh bangun. Dari situ, kamu bisa
menemukan cerita yang autentik dan dekat dengan pembaca.
Kita menulis itu bukan mengawang-awang. Jauh lebih baik kalau kita menulis
itu terinspirasi dari kejadian atau kehidupan nyata sekitar kita.
6.
Dengarkan kebutuhan pembaca
Buku best seller lahir bukan hanya dari keinginan penulis, tapi dari
kebutuhan pembaca. Penulis yang bijak tahu bahwa menulis itu bukan sekadar
memuaskan dirinya, tapi juga memberi solusi dan manfaat bagi orang lain.
Sebelum menulis, tanyakan: “Masalah apa yang sedang dialami masyarakat? Apa
solusi yang bisa saya tawarkan?” Jika bukumu menjawab kebutuhan pembaca, mereka
akan mencarinya, membacanya, dan merekomendasikannya ke orang lain.
Pertanyaan pentingnya: buku kita menjawab persoalan atau kebutuhan apa dari
pembaca? Orang mau membeli karena mereka mendapatkan jawaban dari permasalahan
yang mereka miliki.
7.
Disiplin revisi
Naskah pertama adalah bahan mentah. Buku yang baik lahir dari revisi yang
telaten. Revisi bukan berarti tulisanmu jelek, tapi justru tanda keseriusanmu
untuk memberikan yang terbaik bagi pembaca.
Jangan malas untuk membaca ulang, memperbaiki kalimat, menghapus yang tidak
perlu, atau menambahkan yang penting. Ingat, kualitas buku terletak pada
revisinya, bukan hanya pada ide awalnya.
8.
Aktif promosi
Gunakan semua saluran: media sosial, komunitas, seminar, bahkan percakapan
sehari-hari. Promosi bukan sekadar menjual, tapi berbagi manfaat dari bukumu.
Semakin banyak orang tahu, semakin besar peluang bukumu menjadi best seller.
Kita tidak akan hina dengan jualan buku. Percaya saja apa yang mereka
dapatkan itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan uang yang mereka keluarkan.
Itu juga yang membuat saya percaya diri untuk menjual buku-buku saya.
Jangan malu dan takut untuk jualan buku kita. Di manapun kesempatan itu
ada, manfaatkan untuk jualan.
Kesimpulan
Ada delapan Langkah menulis dengan prinsip MAN JADDA
1.
Mulai darri sekarang
2.
Atur ide dan outline
3.
Nikmati proses
4.
Jaga konsistensi
5.
Ambil inspirasi dari sekitar
6.
Dengarkan kebutuhan pembaca
7.
Disiplin revisi
8.
Aktif promosi
Penutup
Nah, sebagai penutup, semua materi di atas ada pada buku saya UKTUB. Saya
kasih diskon 50% hanya untuk malam ini. Silakan langsung check out di keranjang
kuningnya di tiktok saya di link di bawah ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar