BERANDA

Jumat, 12 September 2025

Mengenal Lebih Dekat Kaidah Pantun

 


 

Judul                   : Mengenal Lebih Dekat Kaidah Pantun

Penyusun           : Agus Salen

Resume ke         : 17

Gelombang        : 33

Hari/Tanggal     : Jum’at, 12 September  2025

Tema                  : Kaidah Pantun

Narasumber       : Miftahul Hadi, S.Pd

Moderator         : Dail Ma’ruf

Pantun merupakan kata yang tidak asing lagi di telinga kita.  Pantun sangat sering kita dengar disampaikan dalam berbagai kegiatan. Sebelum seseorang melanjutkan sambutannya pada forum resmi biasanya diawali dengan membacakan pantun. Peserta yang hadir biasanya antusias mendengarkan pantun  dan mengikutinya dengan ucapan “Cakep”

Pantun juga biasanya disampaikan oleh seseorang untuk menyampaikan isi hatinya kepada sang pujaan. Melalui pantun itulah hati sang pujaan akan tertambat. Pantun juga kadang dibawakan saat acara lamaran, atau acara mengantar mempelai laki-laki ke pelaminan. Masih banyak lagi acara yang diawali dengan membacakan sebuah pantun. Dengan berpantun suasana akan menjadi riuh redah, hadirin semakin bersemangat sehingga acara akan berlangsung lancer.

Pada malam ke-17 Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRRI  akan mengupas materi yang cukup menarik dengan mengambil tema Kaidah Pantun.  

Bunga kenari bunga cempaka

Dirangkai di sekolah

Mari kita buka

Daun salam daun tales

Di ikat dengan  bumbu

Yang  jawab salamnya males

Nanti tidak dapat ilmu gn bersama membaca basmalah

Itulah pantun pembuka yang disampaikan oleh moderator kita pada malam hari ini, dia adalah Dail Ma’ruf.

Setelah menyimak profil narasumber malam hari ini, stu kata hebat luar biasa. Cukup banyak prestasi yang telah diraihnya diantaranya adalah menembus finalis Festival Pantun Pendidikan Negeri Serumpun (Kategori Guru) tingkat ASEAN. Menjadi dewan juru pada acara yang sama. Guru penggerak Angkatan 5, Narasumber Komunitas Belajar Menulis Nusantara PGRI Gelombang 27, 28, 29, 30, 31, 32. Masih banyak lagi pengalaman yang membanggakan.

Dalam hal kepenulisan beliau telah melahirkan banyak buku baik buku solo maupun buku antologi. Menjaga Tradisi di Masa Pandemi, Kumpulan Pantun dengan Berbagai Tema" dan "Menulis Pantun Itu Mudah, Kumpulan Pantun Siswa Kelas V SD Negeri Raji 1 Demak" merupakan dua buku solo yang telah ditulisnya. Bersama dengan rekan lainnya telah berhasil menerbitkan 12 buku antologi.

Selanjutnya beliau mengawali materi dengan sebuah pertanyaan, “Apa yang terlintas di benak Bapak, ibu saudara jika mendengar  kata pantun?

Jawaban peserta cukup beragam ada yang menjawab seni kreatif dalam merangkai kata,  ada juga yang menjawab pantun puisi lama yang terdiri dari empat baris, baris 1 dan 2 merupakan sampiran dan baris 3 dan empat merupakan isi.

Ada juga yang menjawab begini “seni merangkai kata dan bermain rima agar indah dibaca dan enak didengar”

Selanjutnya Narasumber menyampaikan materi utama seputar pantun.

Pantun menurut Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) berasal dari kata “Pan” yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata “Tun” yang merujuk pada sifat santun. Kata “Tun” dapat diartikan juga sebagai pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019)

 

Tuntun (Pampanga): teratur, Tonton (Tagalog): mengucapkan sesuatu dengan susunan yang teratur, Tuntun (Jawa Kuno): benang, Atuntun: teratur, Matuntun: pemimpin, Panton (Bisaya): mendidik, Pantun (Toba); kesopanan atau kehormatan (Hussain, 2019)

 

Pantun berasal dari akar kata “TUN” yang bermakna “baris” atau “deret”. Asal kata Pantun dalam masyarakat Melayu-Minangkabau diartikan sebagai “Panutun”, oleh masyarakat Riau disebut dengan “Tunjuk Ajar” yang berkaitan dengan etika (Mu’jizah, 2019)

Pantun adalah termasuk puisi lama yang terdiri dari empat baris atau rangkap, dua baris pertama disebut dengan pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi (Yunos, 1966; Bakar 2020)

Pantun adalah termasuk puisi lama yang terdiri dari empat baris atau rangkap, dua baris pertama disebut dengan pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi (Yunos, 1966; Bakar 2020) Pantun dengan akar kata “TUN” adalah sebagai kiasan atau perumpamaan dengan maksud mengandungi unsur-unsur pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019)

Kamus Bahasa Melayu Nusantara (2003) menjelaskan bahwa Pantun adalah sejenis peribahasa yang digunakan sebagai sindiran

Beberapa pertunjukan pantun bersifat narasi, misalnya Kentrung di Jawa Tengah dan Jawa Timur menggunakan struktur "pantun" untuk menceritakan kisah-kisah sejarah keagamaan atau sejarah lokal dengan iringan genderang.

 

Pada hakikatnya, sebagian besar kesusastraan tradisional Indonesia membentuk pondasi dasar pertunjukan genre campuran yang kompleks, seperti "randai" dari Minangkabau wilayah Sumatra Barat, yang mencampur antara seni musik, seni tarian, seni drama, dan seni bela diri dalam perpaduan seremonial yang spektakuler

Pantun telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda secara nasional pada tahun 2014. Pantun diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Prancis (17/12/2020).



Pantun memiliki nama  yang berbeda-beda di setiap daerah. Di tapanuli pantun dikenal dengan nama ende-ende. Di Sumda pantun dikenal dengan nama paparikan.  Sedangkan di Jawa pantun dikenal dengan nama parikan.

Pantun memiliki fungsi sebagai pemelihara bahasa  maka pantun berperan

1.     Menjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berpikir

2.     Melatih seseorang untuk  berpikir tentang makna kata sebelum berujar

3.     Merekatkan pergaulan yang kuat

4.     Pantun menunjukkan kemampuan seseorang  dalam berpikir dan bermain dengan kata-kata.

Cara mudah membuat pantun adalah dengan menulis bait ketiga dan keempat (isi pantun) kemudian dilengkapi dengan sampirannya.

Contoh pantun dari peserta

Bersama anak bermain ayun

Sambil makan ikan tuna

Apa tanda insan yang santun,

Akal diisi ilmu berguna.

 

Lari pagi ke alun-alun

Pulangnya beli bandana

Apa tanda insan yang santun

Akan diisi ilmu berguna

 

Pasang tenda secara beruntun,

Bekal nasi diramu tuna,

Apa tanda insan yang santun,

Akal diisi ilmu berguna.

Pagi hari pergi ke kebun

Orang orang entah kemana

Apa tanda insan yang santun,

Akal diisi ilmu berguna.

 

Ada tenda jatuh beruntun

Asal kamu tidak disana

Apa tanda insan yang santun,

Akal diisi ilmu berguna.

 


Menguasai perbendaharaan kata di atas merupakan salah satu bentuk kompetensi untuk mampu membuat pantun. Mengenal perbendaharaan kata untuk menggambarkan isi dan memahami perbendaharaan kata untuk menggambarkan sampiran.

Dalam pantun hubungan antara barus 1 dan 2 atau baris 3 dan 4 sebaiknya terdapat hubungan filosofis.  Tidak perlu terdapat hubungan filosofis antara sampiran dan isi.

Kategori pantun yang matang memiliki hubungan antara baris 1 dan 2 atau antara baris 3 dan bari 4. Untuk menjaga konsistensi kata hendaknya dalam satu baris menggunakan 4 kata.

Kesimpulan

Paantun merupakan kata-kata indah yang mampu mencairkan suasana, memberi semangat  dan motivasi dalam berkegiatan, menumbuhkan kreatiifftas dan berpikir cepat.

Penutup

Baik bapak ibu, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok lusa dan seterusnya. Tetap semangat belajar, karena tidak ada hal sia-sia dari apa yang kita lakukan hari ini.

 

Kamis, 11 September 2025

 

Judul                   : Belajar Menulis Buku Cerita Digital

Penyusun           : Agus Salen

Resume ke         : 16

Gelombang        : 33

Hari/Tanggal     : Rabu, 10 September  2025

Tema                  : Menulis Buku Cerita Digital

Narasumber       : Nur Dwi Yanti, S.Pd

Moderator         : Widya Arema

Nur Dwi Yanti, S.Pd adalah narasumber kita pada malam hari ini merupakan seorang guru yang juga aktif menulis. Telah melahirkan beberap buku solo maupun buku antorlogi. Pada malam hari ini akan berbagi praktik baik dengan tema Menulis Buku Cerita Digital.

Keunggulan buku digital disbanding dengan buku cetak karena

1.     Dapat diperbaharui

2.     Lebih mudah diakses

3.     Lebih interaktif

4.     Lebih murah

5.     Lebih ramah lingkungan

6.     Lebih praktis dan mudah dibawa

Jenis-jenis buku digital

1.     E-book: merupakan buku digital yang diformat dalam bentuk PDF

2.     Audiobook adalah buku digital yang disajikan dalam bentuk format suara, siswa belajar dengan cara mendengarkan

3.     E-book interaktif merupakan e-book tang dilengkapi dengan fitur interaktif seperti video, animasi, dan game edukasi

4.     Edukational apps adalah aplikasi edukasi  yang berisi materi pembelajaran dalam bentuk digita

Bentuk-bentuk penggunaan buku digital dalam pembelajaran:

1.     Menggunakan buku digital yang disediakan dalam berbagai format

2.     Menggunakan buku digital yang dilengkapi dengan fitur-fitur aksesibilitas

3.     Memberikan tugas dan kegiatan belajar yang beragam

4.     Memberikan dukungan dan bimbingan kepada siswa

 


PDF merupakan salah satu  aplikasi pembuat e-book yang cukup mudah diakses melalui perangkat smartphone. Situs web apapun yang menawarkan e-book gratis umumnya ditampilkan dalam bentuk PDF. Hampir semua computer dan smartphone telah dilengkapi dengan aplikasi pembaca PDF sehingga dengan mudah PDF akan terbuka.

Langkah-langkah membuat buku digital untuk keperluan pembelajaran meliputi:

1.     Pilihlah topik yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan berdasarkan pada materi pembelajaran yang akan diajarkan. Demikian juga dengan siswa yang menjadi sasaran e-book mesti bersesuaian dengan tingkat perkembangan dan minat siswa dalam membuat e-book

2.     Kontennya menarik dan bermakna. Konten yang dibuat digabbungkan dengan gambar, audio, multimedia, video, dan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang lugas serta mudah dimengerti oleh siswa.

3.     Pemilihan platform. Gunakan platform gratis seperti canva, book creator, dan google slide. Dapat juga menggunakan platform berbayar seperti ispring suite, adobe captivate, dan e-book maker. Keunggulannya menawarkan fitur yang lebih menarik dilengkapi templete interaktif,  pembaca analitik dan dapat diterbitkan ke dalam berbagai format.

4.     Uji coba dan revisi. Tahap ini dapat dilakukan dengan menguji coba kepada siswa untuk selanjutnya diminta umpan balik mengenai konten, desain dan kemudahan penggunaannya. Selanjutnya untuk meningkatakan kualitas e-bokk lakukan revisi



Salah sau contoh buku cerita digital.

Dengan aplikasi Canva

Buku cerita elektronik dengan Gemini.

Dengan aplikasi google slide.

Kesimpulan

Pembuatan buku cerita elektronik ini sebaiknya hanya diperuntukkan penggunaannya untuk kepentingan sendiri.

Saslah satu Teknik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang kita lakukan bisa dicoba menggunakan buku cerita e-book.

Penutup

Suat hal yang baru diketahui sebaiknya selalu mencoba untuk berlatih agar lebih terampil menggunakannya ut=ntuk peningkatan kualtias pembelajaran.

 

Selasa, 09 September 2025

Mengenal Proofreading


Judul                   : Mengenal Proofreading

Penyusun           : Agus Salen

Resume ke         : 15

Gelombang        : 33

Hari/Tanggal     : Senin, 8 September  2025

Tema                  : Proofreading sebelum Menerbitkan Tulisan

Narasumber       : Susanto S.Pd

Moderator         : Sigit PN, SH.

Seperti biasanya kegiatan berlangsung selama dua jam dan terbagi dalam empat tahap yaitu  pembukaaan, paparan narasumber, tanya jawab dan penutup. Kelas menulis pada malam hari ini akan dibawakan oleh Bapak Susanto, S.Pd dengan tema  Proofreading sebelum Menerbitkan Tulisan. Kegiatan malam ini dipandu oleh moderator hebat kita, dia adalah Sigit PN, SH,

Narasumber hebat kita pada malam hari ini adalah seorang guru di SDN Mataram, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Saat ini tengah menempuh Pendidikan S2 di Universitas Muhammaddiyah Malang. Telah menerbitkan tiga buku solo yaitu Berani Menulis dalam 20 Hari (2020), resume hasil belajar di KBMN. Pijar Lentera Asa, Memoar Guru Pembelajar (2022) dan  Pelukan untuk Rindu, Deepublish (2024).

Beliau juga berhasil menerbitkan buku antologi bersama Kelas Belajar Menulis Nusantara dengan judul buku Ukir Prestasi dan Tebar Inspirasi (2020), Senandung Guru 1 (2020) dan Membongkar Rahasia Menulis Ala Guru Blogger (2021).

Selain itu, juga berhasil menerbitkan beberapa buku antologi bersama komunitas menulis AISEI, rumah Virus Literasi dan penerbit Indi. Berhasil menjadi editor 14 naskah buku.

Proofreading itu merupakan tahap setelah tulisan selesai. Sebuah tulisan yang telah selesai ketika seroang penulis mulai berkreasi dilanjutkan sampaai semua ide atau gagasan selesai dituliskan.

Apakah proofreading itu?

Proofreading merupakan tahap paling akhir dari menulis yang bertujuan untuk melakukan pemeriksaan teks agar tidak lagi terjadi kesalahan sebelum dipublikasikan.

Hal-hal yang diperiksa mencakup kesalahan pengetikan (ejaan), penggunaan tanda baca, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah dan logika dari sebuah tulisan.

Typo terdiri dari empat jenis, yaitu:

1.   Typo insidental, kesalahan ketik cukup diperbaiki

2.   Typo individual merupakan kecendrungan  pribadi yang sering salah menuliskan kata yang sama

3.   Typo automatikal adalah koreksi dengan menggunakan aplikasi

4.   Typo konseptual merupakan kesalahan penulisan kata karena kekurangtahuan.

Ada tiga alasan melakukan proofreading sebelum menerbitkan naskah ilmiah yaituL

1.   Untuk menemukan kesalahan tata bahasa

2.   Untuk memudahkan pembaca memahami isi artikel

3.   Untuk memastikan tulisan tidak keluar dari topik

Kemudian Narasumber memberikan tantangan kepada peserta untuk memperbaiki sebuah tulisan sebagai bagian dari proses pembelajaran pada malam hari ini.

Penggunaan kata memang disertai dengan penjelasasn contoh pada kalimat berikut ini: Kamu memang cantik, sayangnya kesabaranmu setipis tisyu.

Selanjutnya penggunaan kata dan pada pemerian (Perincian) dipakai sesudah tanda koma berakhir.

Materi yang bersumber dari pertanyaan peserta kami rangkum menjadi beberapa bagian penting.

Proofreading dapat dilakukan oleh orang lain (profesional) namun, dapat juga dilakukan sendiri. Proofreading yang dilakukan sendiri oleh penulis memiliki ketentuan sebagai berikut:

1.   Diamkan naskah beberapa waktu untuk menetralkan perasaan  terhadap tulisan sendiri,

2.   Agar tidak salah asumsi sebaiknya membaca terlebih dahulu seluruh tulisan,

3.   Memeriksa saltik, istilah, EYD, struktur, dan kelogisan,

4.   Membaca dengan bersuara.

Jika proses ini telah selesai tinggalkan dulu tulisan itu. Beberapa waktu kemudian baca kembali biasanya akan muncul kelimat yang kurang tepat atau kalimat yang rancu. Atau bisa juga proofreading diserahkan kepada profesional dengan beberapa konsekuensi.

Jenis tulisan berupa sastra aturannya lebih longgar. Karena sastra mengutamakan keindahan  kata dan kedalaman makna. Sementara karya tulis essay atau artikel tidak membutuhkan kekuatan kata yang bersifat puitis.

Menggunakan alat bantu dalam menulis itu syah-syah saja  selama tidak menyerahkan totalitas penulisannya itu. Butuh kecerdasan dan strategi dalam memanfaatkan AI sebagai alat bantu penulisan. Penulis harus tetap mengkonfirmasi kebenaran tulisan dengan menggunakan alat bantu tersebut.

Kesimpulan

Proofreading dapat dikerjakan sesndiri atau diserahkan kepada profesional. Butuh kecerdasan dan strategi dalam memanfaatkan AI sebagai alat bantu penulisan. Penulis harus tetap mengkonfirmasi kebenaran tulisan dengan menggunakan alat bantu tersebut. Proofreading merupakan tahap paling akhir dari menulis yang bertujuan untuk melakukan pemeriksaan teks agar tidak lagi terjadi kesalahan sebelum dipublikasikan

 Penutup

Bagi pemula yang tertarik ingin menulis artikel atau jurnal hingga tembus scopus Narasumber  memberikan saran agar mengunjungi wab https://ebizmark.id. Juga daoat  memilih pelatihan terdekat kemudian mengukutinya dan pilih yang gratis.

 

 

 

Mengembangkan Literasi Digital di Sekolah

Judul                   : Mengembangkan Literasi Digital di Sekolah Penyusun           : Agus Salen Resume ke         : 19 Gelombang ...