BERANDA

Jumat, 05 September 2025

Mengenal Puisi

 

 



Judul                   : Mengenal Puisi

Penyusun           : Agus Salen

Resume ke         : 14

Gelombang        : 33

Hari/Tanggal     : Jum’at, 5 September  2025

Tema                  : Menulis Puisi

Narasumber       : Dr, Hj. E. Hasanah, M.Pd.

Moderator         : Mutmainnah, M.Pd.

 

Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd., yang akrab disapa Ibu Hasanah, lahir di Sukabumi pada 10 Agustus 1967. Beliau adalah seorang ibu dari tiga orang anak yang mendedikasikan hidupnya di dunia pendidikan. Saat ini, beliau berkiprah sebagai Pengawas Madrasah Aliyah di Kankemenag Sukabumi sekaligus menjadi dosen di STAI Kharisma Cicurug.

Ibu Hasanah telah menorehkan sejumlah prestasi gemilang. Tahun 2021, beliau dinobatkan sebagai Pengawas Berprestasi Tingkat Jawa Barat. Pada tahun yang sama, beliau juga meraih penghargaan bergengsi sebagai salah satu penerima Anugerah Guru dan GTK Kemenag Berprestasi Tingkat Nasional dalam kategori Pengawas Madrasah Berprestasi..

Semangat literasi inilah yang mengantarkannya menjadi penulis produktif. Sejak 2021 hingga sekarang, beliau telah menulis berbagai karya, mulai dari pantun, puisi, cerita, hingga artikel nonfiksi yang terhimpun lebih dari 70 buku antologi.

 

Pada malam ke-14 ini beliau akan membawakan materi “Seni Menulis Puisi” yang akan dipandu oleh moderator hebat kita pada malam hari ini yaitu  Ibu Mutmainnah, M.Pd.

.

Seni menulis puisi* adalah keterampilan dan kepekaan dalam merangkai kata-kata secara indah, padat, dan bermakna untuk menyampaikan perasaan, gagasan, atau pengalaman batin. Ia bukan sekadar menulis, melainkan menciptakan suara jiwa yang berbicara lewat irama, citra, dan simbol.

Karakteristik Utama

1.     Bahasa yang indah dan kiasan*: Menggunakan metafora, personifikasi, dan majas lain untuk memperkuat makna.

2.     Ritme dan rima*: Kadang terikat oleh pola bunyi tertentu, meski puisi modern lebih bebas.

3.     Struktur padat*: Setiap kata dipilih dengan cermat agar sarat makna, tidak bertele-tele.

4.     Ekspresi emosi dan spiritualitas*: Puisi menjadi wadah untuk menyuarakan cinta, kerinduan, keresahan, bahkan doa.

 

Unsur-Unsur Pembentuk

1.     Tema*: Ide pokok atau pesan utama.

2.     Nada dan rasa*: Sikap penyair terhadap tema, bisa lembut, tajam, atau reflektif.

3.     Amanat*: Nilai atau pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.

4.     Diksi dan gaya bahasa*: Pemilihan kata yang khas dan penuh daya pikat.

Mengapa Disebut “Seni”?

1.     Karena menulis puisi melibatkan:

2.     Kepekaan rasa* terhadap bahasa dan makna.

3.     Kreativitas* dalam menyusun kata menjadi karya yang menyentuh.

4.     Keindahan* yang tidak hanya tampak dalam bentuk, tapi juga dalam kedalaman makna.

Sruktur fisik puisi

1.     Berbentuk baris atau bait

2.     Diksi: pemeilihan kata indah yang membentuk makna

3.     Majas: Bahasa kuat yang mengungkapkan isi hati penyair

4.     Rima : Persamaan bunyi di baria atau akhir baris memunculkan keindahan bunyi

Jenis puis dapat dibagi dua yaitu puisi lama dan puisi baru

Puisi lama adalah puisi yang masih terikat pada aturan-aturan  yaitu jumlahkat dalam sat ubaris, jumlah baris dalam satu bait, persajakan atau rima dan banyaknya suku kata ditiap baris.

Puisi baru adalah puisi yang tidak terikat pada aturan dan bentuknya lebih bebas daripada puisi lama dalam hal jumlah baris, suku kata, maupun rima.

Ciri-ciri puisi lama

1.     Tidka diketahui nama pengarangnya

2.     Penyamapaian dari mulut kemulut dan merupakan sastra lisan

3.     Sangat terikat dengan aturan misalnya jumlah baris dalam satu bait

 Jenis puisi lama

1.     Mantera Adalah ucapan-ucapan yang memiliki kekuatan gaib

Contoh mantera untuk mengobati dari gangguan roh halus, sihir lontar ppinang lontar, terletak di ujung bumi, Setan buta jembalum buta, aku sapa tidak berbunyi

2.     Pantun: adalah puissi yang berbentuk ab-ab setiap  baut terduru daru empat barus, setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata,  ddua baris awal sebagai sampiran dan dua baris berikutnya sebagai isi. Contoh pantun nasihat,

3.     Seloka adalah pantun yang bertautan

4.     Pantun genap adalah pantun yang setiap barisnya terdiri darri 6,8 atau 10 baris

Ciri-ciri puisi baru1.

1.     Memiliki bentuk yang rapih dan simetris

2.     Persajakan akhir yang teratur

3.     Menggunakan pola sajak pantun dan ssyair walaupun dengan pola yang lain

4.     Sebagian besar puisi empat seuntai

Jenis puisi baru

1.     Balada Puisi berisi kisah

2.     Himne adalah pusissi pujian untuk menghormati tuhan, menyambut pahlawan, atau tanah air

3.     Ode adalah puisi sanjungan untuk orang-orang nada dan gayanya sangat resmi menyanjung terhadap pribadi tertentu

4.     Epigram adalah puiisi yang berisi tuntunan atau ajaran

5.     Romansa adalah puisi yang berisi ungkapan cinta kasih

6.     Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis atau kekrinduan

7.     Satira adalah puisi yang berisi sindiran/kritik

Selajutnya narasumber menantang peserta untuk membuat puisi . Peserta secara bergantian mengirimkan puisi ciptaanya. Mereka menunjukkan bakatnya dalam merangkai kata kata sehingga melahirkan sebuah puisi yang indah.  Beberapa karya puisi  peserta KBMN gelombang ke-33

Elegi untuk Mama

Oleh : Yusri

 

Di hamparan sunyi, kini kudapati

Pelukmu tiada, senyummu sepi

Jagatku remuk, hati dan pikir berkecamuk

Sejak desah napasmu terhenti, Mama

 

Dulu, matamu lentera di malam gulita

Tanganmu sutera, membelai lara

Kini hanya bayang, menjelma hampa

Melewati pagi berkabut sutera

 

Setiap sudut menyisakan jejakmu

Aroma kasihmu, masih lekat di kalbuku

Namun kini hanya kenang yang tersisa

Mengukir perih di dada yang merana.

 

Bintang di langit, kini kusam cahyanya

Bunga di taman, gugur kelopaknya

Dunia seakan ikut berduka, Mama

Sejak engkau tiada, hanya pilu yang ada

 

 Ingin kuraih lagi jemarimu yang lembut

Saat sapa tak lagi kau sambut

Saat bias sinar terselimut kabut

Hanya namamu yang bisa kusebut

 

Tujuh tahun kau lewati masa

Merangkai asa dalam kelana

Ikuti gerak Sang Penggerak

Susuri lorong waktu bersama benang perak

 

Di balik jasad yang membeku

Sinar terpancar dari wajah yang kaku

Kuikhlaskan kepergianmu tanpa ragu

Kupercikkan jasadmu dengan air wudhu

 

 Kini pakaianmu berbalut kain putih

Tak kan lagi terungkap rasa letih

Biar kuhempaskan rasa perih

Kulebur semua  rasa sedih

 

 Selamat jalan, Mama, mutiara hatiku

Namamu terukir abadi di relung kalbu

Meski raga terpisah, jiwa takkan layu

Cintaku padamu, selamanya utuh

 

Biarlah rindu membimbing langkah

Mengukir jejak di lembaran baru

Karena Mama selalu bersemayam

Menjadi pelita di setiap jalan yang kulalui

 

 Kucoba menepis duka

Merangkai asa yang sempat tertunda

Meniti langkah membina rasa

Memantik semangat semampu yang kubisa

 

Namamu tetap kugenggam

Dalam peluk doaku

Seindah taburan bunga rampai yang segar

Menghiasi pusara di bawah tanah merah

 

Sumedang, 5092025

Hati yang Letih

Agus Salen

Malam kelam

Merambat waktu

Aku masih terpaku

Merenung panjang

 

Kala hati mulai letih

Menangkap makna hidup

Seakan gelap tak berujung

Enggan menatap asa

 

Engkau yang pernah ada

Bersama menoreh asa

Meski Bermandi pluh

Kau tetap setia

 

Pikiranku melayang jauh

Hadirkan rasa

Menuai cinta

Kala masih berdua

 

Hatiku mulai lelah

Menyelam dalam sunyi

Tuk hadirkan indah

Yang dulu ada

 

Mataku menerawang

Gelap tak berujung

Hendak lari menggapai

Bayangmu nun jauh

 

Ah  aku lelah

Lunglai dalam takdir

Hendak bangkit

Namun apa daya

Sidrap 5 Sep. 25

Menepis Luka

Oleh:Tika

 

Terlena dalam pelukanmu

Empaskan sesak yang menikam

Dalam deret cerita lama

Kini enggan beranjak dalam raga

 

Lelah membenci namun renjana memelukku

Bias bak air dalam genggaman

Terperangkap cahaya rembulan

Perlahan menyatukan rasa

 

Gemercik air menyulap rona

Sendu terjebak masa lalu

Melebur bagai ilusi

Memekik sunyi dalam sepi

 

Garut, 05 September 2025

Kesimpulan

Materi ini cukup manarik semakin menambah wawasan sehingga bisa mencoba menulis puisi sebagai sebuah ungkapan hati.

Penutup

Mari berkarrya membuat puisi

 

 

 

 

 

2 komentar:

Mengembangkan Literasi Digital di Sekolah

Judul                   : Mengembangkan Literasi Digital di Sekolah Penyusun           : Agus Salen Resume ke         : 19 Gelombang ...